Dongeng Anak Prasarana, Apa Itu, Anakku ?-

Dongeng anak Prasarana, apa itu, anakku ?- suatu desa dilereng gunung salak, jawa barat. Lewat tengah hari seorang yang tampanhnya menyerupai pengantar pos, manpir kerumah lurah. Oleh sebab desa itu cuma satu kali sebulan saja menerima kiriman pos, itu pun nila ada truk perkebunan yang suka reka mai mengantarkan surat surat itu dari kantor pos bogor kesana. Dapat dibayangkan peristiwa yang sangat penting.

Begitu pentingnya hingga lurah selalu memukul kentong untuk memberitahukan semua penghuni desa bajwa pos datang.

Kali ini pun, lurah memukul kentong. Dan penghuni desa bermunculan dari mana mana menyerbu rumah lurah. Gambarannya tak banyak benda dari pemerintah pos oleh prajurit prajurit di medan perang.

 

Rumah lurah telah sepi kembali , yang menerima surat kiriman paket, sudah membaca suratnya masing masing dirumah. Seorang wanita setengah baya, duduk lesu bersandar pada salah satu tiang emeper rumah lurah, ditangannya secarik telegram yang telah dibuka, disampingnya, juru tulis muda, mata wanita itu berkaca kaca.

Sudahlah bu, tak ada gunanya ditangisi lagi. Dia toh telah hampir sebulan yang lalu meninggal. Saya kira, dia tentulah telah dikubur, bahwa ibu baru hari ink menerima telegram pemberitahuan dia meninggal, ini patut disesalkan, siapa yang harus disalahkan? Mau menyalahkan jawatan pos, wah, susahh!..

Kenapa susah ? Bukankah tugas mereka harus mengantar surat surat terlebih telegram telegram penting ini, tepat pada waktunya.”

Carik muda tersenyum getir, bagaimana ia menerangkan secara jelas dan sederhana pada ibu tua ini ? Akankah dia harus berpidato panjang lebar mengenai 1001 kesukaran dan kekurangan yang dihadapi jawatan postel kita ? Masih untung ada truk perkebunan Yang mau secara sukarela mengantarkan Pos dari kantor pos bogor kemari, dan juga mengantarkan surat surat dari desa ini kekantor pos bogor, apa ibu tua ini tak pernah dengar tentang surat yang baru tiba setelah lewat satu tahun labih disamarinda dan dikirim dari jakarta.

 

Sambil melangkah pelan pelan, cari muda menemani ibu tua itu pulanh kegubuknya. Dia ini masih saja sesenggukan, sesekali menghapus air matanya.

Coba pikirkan , anak ku satu satunya … Sampai hatilah negara ini memperlakukan dia dan aku dengan cara beginj, apa kah ini bukan warga negara yang baik ? Apakah Aku tidak berhak mengetahui Pada waktu anaku meninggal agar aku masih bisa menghadiri setidaknya penguburannya?..

 

Dan dia sesnggukkan terus, carik muda kita masih binggung, membujuk dan menghibur seseorang yang tertimpa Kemalangan itu memperlihatkan suatu sikap yang sama sekali tidak mau tahu dengan segala persoalan dan kesulitan Negara yang berkembang, seperi negara kita sendiri.

Dan dalam briefing pak bupati terakhir yang dihadirinya di kabupaten bogor tentang pelaksanaan repelita, soal kemacetan prasarana seperti yang dialami ibu tua ini, tidak ada singgung singgung mau melengkapi sendiri dengan pedagang pedagang pribadinya sendiri, ehh takut kalau nanti malah tidak cocok dengan semangat dan jiwa replita sama sekali maklumlah dia cuma sampai kelas dua SGB saja, berhenti karena ayahnya meninggal, tidak mampu melanjutkan sekolahnya dan terpaksa kerja, kini sebagai carik muda , karena carik tua baru baru ini meninggal.

 

Inilah bu, persoalan prasarana….?
” ibu tua itu mendelik, matanya bundar menoleh padanya, sesengguknya berhenti,” apa , nak ?
Carik muda kita kager , wah ! Keluhan dalamnya ternyaa terlompat keluar terdengar oleh ibu tua itu..
” Anak bilang apa tadi ?”
Prasarana bu..” prasarana apa itu nak ?”..
Panik betul carikuda kita, dia sendiri tak tau apa arti kata itu seluruhnya, dari briefing bupati bogor terakhir, dia cuma duga arti prasarana adalah kira kira sama dengan hubungan tetapi bagaimana menerangkan pada ibu tua itu? Akankah seluruh briefinh pak bupati harus diulanginya kembali bagi dia ?”

 

Prasarana apa itu nak ?” carik muda lesu menggelengkan kepalanya , biarlah ibu tua ini mengganggapnya kurang sopan tetapi dia tidak akan Coba coba menerangkannya . Sambil memalingkan dirinya kearah matahari senja dibalik gunung salahmk , dia menarik napas panjang, langkahnya panjang panjang Mengantarnya pulang kepondoknya , dan dalam hatinya dia tak putus putusnya bertanya terus,” prsarana apakah itu ?..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *