Dongeng Anak Ronggeng Dukuh Paruk

Dongeng anak Ronggeng Dukuh Paruk – Malam terakhir di dukuh paruk, aku hampir gagal memejamkan mata hingga pagi hari, srintil mengiginkan agar aku tetap tinggal bersamanya di dukuh paruk, atau ia ikut bersamaku, pergi bergabung dengan kelonpok sersab slamet.

” Bila engkau ingin beryani, aku mampu membelu satu hektar sawah buat kau kerjakan. Bila kau ingin berdagang, akan kusediakan uang secukupnya,” pinta serintil ditengah malam yang sepi .”
“srin, aku belum berpikir sedemikian jauh, atau aku takkan pernah memikirkan hal semacam itu. Lagi pula aku masih teringat kata katamu dulu bahwa kau senang menjadi ronggeng” jawabku.” Ehh rasus, mengapa engaku mau mwngajukan permintaanku iru sekarang, dengar rasus aku akan berhenti menjadi ronggeng karena aku ingin menjadi istri seorang tentara,engkaulah orangnya.

Masih segudang alasan dan janji yang diucapkan srintil kepadaku. Sebagai laki laki usia dua puluh tahun, aku hampir dibuatnya menyerah, tetapi sebagai anak dukuh paruk yang telah tahu banyak akan dunia luar, aku mempunyai seribu alasan untuk menolak permintaan srintil. Seintil perempuan dukuh paruk. Permintaan srintil yang berlebihab pasti hanya didorong keinginan sesaat yang kebetulan sejalan dengan nalurinya sebagai perempuan.

Menjelang fajar tiba, kudengar burung sikatan mencecet dirumpun daun dibelakang rumah. Keletak keletik bunti bayi tetes embun yang jatuh menimpa daun kering. Kudengar dengung kumbang tahi yang kecil, rengek bayi tetabgga dan keributab kecik dikandang ayam. Keretak tahi kambing yang tercurah keatas geladak kandangnya, kekelepak sayap kampret diantara daun jambu disamping rumah .

Perlahan lahan aku bangun, lirih sekali aku tidak menghendaki terdengar derit pelepuh bambu yang dapat membangunkan srintil, dia masih tertidur lelap, seperti dahulu , serintil bertambah cantik dan teduh bila sedang tidur, dengan hati hati kubenahi kainnya yang acak acakan, ketika serintil menggelit, kuelus dia seperti aku mengelus anak kecil, tidak lama aku berdiri menatap ronggeng dukuh paruk itu, aku tidak ingin sesuatu yang berbau sentimentak menahan keberangkatanku.
Dibalik bilik kulihat nenek tidur miring dan agak melingkar , sinar pelita kecil kemungkinan aku melihat gerak paru parunya , pelan sekali. Ah nenek .

Mengapa bukan sejak dulu aku mencari gambar wajah emak Pada kerentaanmu? Oh tidaj .. Tidak . Aku sudah mendapat pelajaran, berusaha mencari gambaran emak yang selama ini kulakukan hanya membuahkan hasil keresahan. Kekliruan semacam itu tak pernah kuulangi.maka kutatap garis garis kerentaan pada wajah nenek secara damai, kemudian, kebawah bantal, kusisipkan semua uang yang ada disakuku.

Aku berbalik, tak kulupkan aku sudah menjadi tentara meski tanpa pangkat, jadi watak ragu harus kulenyapkan.
Selesai menggunakan pakaian seragam kusambar bedil yang tergantung diatas balai balai biliku, srintil masih lelap disana, tetapi aku hanya melihatnya sejenak,langit ditimur mulai benderang ketika aku melabgkah keluar , belum seorangpun di dukuh Paruk dengan segala sebutan dan penghuni akan kutinggalkan. Tanah airku yang kecil itu tidak lagi kubenci meskipun dulu aju telah bersumpah tidak akan memaafkannya karena dia telah merenggut srintil , dari tanganku, bahkan lebih dari itu, aku akn memberi kesempatab kepada pedukuhanku yang kecik itu kembali kepada keasliannya dengan menolak perkawinan yang ditawarkan srintik, aku memberi sesuatu yang paling berharag bagi dukuh paruk, ronggeng.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *